Mitigasi Perubahan Iklim : Memetakan Pangan Lokal Asmat

Sejumlah penelitian tentang sagu (Mclorxylon sp) Papua1 menunjukkan bahwa meski menjadi makanan utama dan terbukti tumbuh secara alami tanpa budidaya, namun Provinsi Papua tidak bisa mengelak dari kerawanan pangan kategori tinggi yang terjadi dalam tahun-tahun terakhir2. Penyebab kerawanan adalah ketidakseimbangan antara tingkat produksi sagu dengan jumlah konsumsi yang terjadi. Revolusi hijau, dimana produksi padi digenjot secara massal dan beras murah ada dimana-mana telah menggeser posisi sagu dan memicu ketergantungan masyarakat Papua terhadap beras-yang justru dari sisi geografis tak sesuai tumbuh di kondisi alam Papua yang cenderung rawa-rawa atau di dataran tinggi. Perluasan lahan padipun berpeluang mengubah tata air Papua. Kini, dalam rangka mengurangi tingkat kerawanan pangan dan kompleksitas perubahan iklim di Papua, terutama di Kabupaten Asmat, Pemerintah didorong mengimplementasikan kebijakan pengembangan budidaya makanan lokal –berbasiskan data akurat– di lokasi yang familiar dengan masyarakat adat.

Data Akurat Melalui Metode Pemetaan Partisipatif

WWF-USAID IFACS menilai, salah satu peluang untuk memperoleh data akurat tentang peta makanan lokal di dusun-dusun sagu adalah dengan mendorong pemetaan komunitas dengan metode SIG (Sistem Informasi Geografis). Sebagai contoh, dari 3 kampung; Tii, Sagapu, Tomor (Distrik Suru-suru) yang telah memanfaatkan program pemetaan komunitas, memperlihatkan data aktual akses masyarakat ke sumber makanan lokal mereka dan pola tradisional yang dilakukan untuk menjaga kawasan tersebut.

Di tahun 2009-2010, WWF Indonesia juga memetakan lokasi pertumbuhan sagu Asmat, di tempat dimana 12 Forum Adat Rumpun (FAR) berdomisili. Dari pemetaan tersebut terekam 304 ribu hektar dusun sagu dari total luas wilayah Asmat; 2,8 juta ha. Peta itu sekaligus menunjukkan bagaimana hubungan masyarakat adat dengan alam sekitarnya. Peta ini tergolong akurat karena berbasiskan petunjuk masyarakat itu sendiri, dan dalam tekanan perubahan iklim yang cukup tinggi, petunjuk tersebut bisa digunakan untuk mempertahankan keberadaan pangan lokal agar dampak terburuk; kekurangan makanan bisa terhindarkan dan diantisipasi secara dini.

Sumber : narasi oleh I.Aminuddin-WWF Asmat, peta oleh W.Rumbiak, data oleh WWF Indonesia

—————————

1Rauf 2009, Novarianto 2003
2Badan Ketahanan Pangan. 2009. Peta Ketahanan Dan Kerentanan Pangan Indonesia.
http://bkp.deptan.go.id/file/petapangan/FSVA_Report.pdf
0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *