Mengembangkan Asosiasi Woupits untuk Kelestarian Hutan Asmat

Pengetahuan dan keterampilan tradisional suku Asmat dalam hal mengukir dan memahat telah diakui sebagai kekayaan intektual yang berkontribusi terhadap keberlangsungan ekologi dan konservasi.

Secara turun temurun generasi suku Asmat belajar tentang keterampilan mengukir dan memahat. Dalam usia dini mereka memahami bahwa sebuah ukiran memiliki nilai sakral dan spiritual yang menghubungkan antara kehidupan masa lalu dan masa kini. Pemahaman terhadap dunia kosmo yang melampaui batas pikir manusia modern menujukkan satu hal nyata; kekinian bagi roh-roh masa lalu. Pemahaman itu kemudian mengkoneksikan para individu suku Asmat untuk menghargai alam -karena kepercayaan bahwa leluhur mereka berada di sana, mengamati dan memberi pengaruh-. Mereka yang memiliki keahlian mengukir disebut woupits.

Di sisi lain, kemampuan untuk memanfaatkan kayu dan dedaunan menjadi karya seni merupakan potensi ekonomi yang menjanjikan. Para pengukir dan penganyam memiliki dasar kuat untuk terus memproduksi karya yang diterima oleh pasar. Saat ini, sektor produk lokal ini tak terserap pasar secara maksimal, padahal terdapat ruang-ruang yang bisa di isi. Sejumlah tantangan menghadapi pengembangan produk lokal ini, seperti : target market (diperlukan kejelian melihat target pembeli. Siapa mereka, darimana saja, kemampuan beli dan sebagainya. Pada umumnya pembeli menginginkan standar originalitas, kualitas, ketersediaan barang dan keterbaharuan design tanpa meninggalkan otentisitas produk itu). Selanjutnya dukungan pemerintah dan koordinasi yang solid. Pemerintah berkewajiban untuk fokus pada aspek budaya dan bekerjasama dengan kelompok pengukir-penganyam untuk menciptakan ikon yang merepresentasikan ‘karya-karya Asmat’. Pemerintah juga seyogyanya berlaku sebagai regulator yang fokus melindungi dan melestarikan karya-karya seni dan budaya Asmat. Serta memahami ancaman, tantangan dan tindakan apa yang perlu dilakukan untuk mendukung pengembangan karya-karya seni ini.

Konsistensi penerapan kebijakan merupakan hal yang tak bisa dipisahkan dari seluruh rangkaian kerja ini. Terdapat kebutuhan untuk meningkatkan kesadaran dan nilai-nilai pendidikan di kelompok pekerja seni ini, sehingga pada akhirnya mereka tak hanya mendapatkan keuntungan dari karya seni mereka, tapi juga mendapatkan perlindungan semaksimal mungkin dari lembaga pemerintah. Kebijakan juga seharusnya berkorelasi dengan masa depan budaya Asmat. Pemerintah juga memiliki tantangan untuk menciptakan infrastruktur dasar yang mendukung pengembangan karya-karya seni Asmat. Hal lain adalah kemampuan pemerintah dan pemangku kepentingan yang relevan untuk mendorong pekerja seni dan budaya ini memahami bahwa mereka menghadapi persaingan yang tinggi di luar sana, dan karenanya harus terus melakukan inovasi dan menciptakan standar-standar tinggi terhadap produk mereka. Tugas selanjutnya adalah melindungi karya-karya ini dari pembajakan.

WWF-Indonesia dalam program Indonesian Forestry and Climate Support (IFACS) USAID memandang; upaya untuk memperbaiki mata rantai pasar dan peningkatan kesejahteraan pengukir dan penganyam berkorelasi erat dengan upaya untuk mempertahankan keseimbangan alam. WWF-Indonesia bersama Dinas Pariwisata dan Kebudayaan untuk Kabupaten Asmat bekerja mendorong terbentukknya Asosiasi Pengukir yang kini memiliki keanggotaan sekitar 800an pengukir di seluruh Kabupaten Asmat.

Tugasasosiasi pengukir ini adalah mempromosikan pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya alam yang berkelanjutan, dimana pola ini sendiri menunjukkan bagian dari konservasi lokal Asmat, pemanfaatan kayu dalam jumlah terbatas, terseleksi dan dipenuhi pertimbangan arif. Bagi WWF-Indonesia, model pengelolaan lokal dan berbasiskan budaya ini patut untuk dipromosikan sebagai bagian dari agro ekosistem untuk memecahkan dilema konservasi yang rentan terjadi akibat pergeseran tata ruang. Kini dukungan lain yang perlu dikuatkan adalah kebijakan, sarana dan prasarana serta kerangka pengelolaan yang memberikan ruang sebesar-besarnya pada kelompok pengelola keterampilan tradisional ini.

 

Sumber dan Narasi oleh Indarwati Aminuddin – WWF Indonesia
0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *