Seminar dan Diskusi Pembangunan Desa Berkelanjutan di Wilayah Koridor RIMBA Berbasis Ekonomi Hijau

Pada tanggal 21 Agustus 2014 diadakan Seminar dan Diskusi “Pembangunan Desa Berkelanjutan di Wilayah Koridor RIMBA berbasis Ekonomi Hijau”. Kegiatan ini bertempat di Ruang Iris Hotel Mercure Kota Padang, Sumatera Barat. Kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan SRRED-FI dimana salah satu kegiatan intinya adalah mengawal isu wilayah dan perdesaan.

Kegiatan ini diawali dengan sambutan dari CEO WWF Indonesia, Dr. Efransjah dan dilanjutkan oleh sambutan dari Direktur Penataan Ruang Wilayah Nasional, Kementerian Pekerjaan Umum Dr. Ir. Budi Situmorang yang mewakili Dirjen Penataan Ruang Kementerian Pekerjaan Umum dimana pada kesempatan ini tidak dapat hadir.

Dalam sambutannya, Dr. Efransjah menyatakan apresiasinya terhadap SRRED-FI dimana wadah ini menjadi penting karena ketika berbicara pembangunan maka akan ada banyak perbedaan kepentingan. Forum ini mencoba memberikan wadah/ruang kepada semua pihak untuk berkontribusi dalam menata pembangunan. Untuk itu diperlukan model-model yang tepat yang dapat dilaksanakan pada desa-desa di Indonesia. Salah satu model yang akan dikembangkan adalah konsep RIMBA dimana koridor RIMBA (Riau, Jambi, Sumatera Barat) sudah disahkan di dalam Perpres No 13/2012 mengenai Penataan Ruang Pulau Sumatera.

Acara kemudian dilanjutkan menenai paparan lima Narasumber yang dimoderatori oleh Direktur Tata Ruang dan Pertanahan Bappenas Dr. Ir. Ozwar Muazin. Narasumber pertama adalah Direktur Pembinaan Penataan Ruang Daerah Wilayah I, Kementerian Pekerjaan Umum, Bapak dedi Permadi yang membahas Program Pengembangan Kawasan Perdesaan Berkelanjutan (P2KPB). Pada paparannya beliau menjelaskan mengenai tujuan dan prinsip yang diusung oleh P2KPB. Program P2KPB telah dimulai dari tahun 2012, dan implementasi di tahun 2013 pada 7 Kabupaten di Indonesia dan dilanjutkan dengan 7 Kabupaten lainnya di tahun 2014/2015.

Paparan ke dua mengenai Model Pengelolaan Sektor Pertanian (di pedesaan) dalam rangka Ketahanan Pangan dan Ekonomi Desa oleh Dr. Ir. Abdul Basid yang dalam kesempatan ini mewakili Kepala Biro Perencanaan Kementerian Pertanian.

Selanjutnya paparan oleh Prof. Dr. Hadi Alikodra, Senior Advisor WWF Indonesia yang membahas Penguatan Fungsi Hutan & Kapasitas Desa dalam Sistem DAS. Dr. John Patauw dari Pengairan Brawijaya memaparkan Pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Mini Hidro sebagai Sumber Energi Terbaharukan Desa. Paparan terakhir dari Dr. Nyoto Santoso, Staf Pengajar Fahutan IPB mengenai Sinergi Mengeola Koridor RIMBA berbasis DAS.

Sesi diskusi menghasilkan matriks para pihak dan inisiatof para pihak terkait perwujudan Pembangunan Perdesaan Berkelanjutan. Pengisian mencakup : (1) Apa yang dilakukan, (2) dimana lokasi dan (3) kapan akan mendeliver/didistribusikan beserta kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan pembangunan perdesaan berkelanjutan. Dokumen matriks ini dapat di unduh di menu dokumen pada website ini.

Pada hari berikutnya, pengurus SRRED-FI melanjutkan kegiatan kunjungan ke Kelok 9 untuk melihat dan berdiskusi mengenai pembangunan kelok 9. Jembatan Kelok 9 secara geografis berada di kabupaten Lima Puluh Kota Sumatera Barat, dibangun dengan sinergi tinggi bersama Antara Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Kehutanan dan Pemda setempat.

Jembatan Kelok 9 terletak diantara lembah kawasan pelestarian alam di bukit barisan yang memiliki pemandangan yang bagus dan dinilai memiliki potensi menjadi lokasi destinasi wisata baru bagi pengendara yang melewati tempat tersebut. Konsep Nature and Enginering in Harmony, suatu konsep yang menggabungkan alam (Taman Konservasi Nasional Bukit Barisan) dengan rekayasa teknologi dapat berpadu harmonis. Hal ini sesuai dengan program kerja SRRED-FI 2014/2015 yang mengusung Eco-construction.

Eco-construction dalam Pengembangan Wilayah dan Perdesaan yang Berkelanjutan

Pentingnya infrastruktur khususnya jalan untuk pengembangan suatu wilayah menjadi suatu keperluan dasar yang perlu dibangun untuk mendorong pembangunan ekonomi wilayah. Disaat yang sama kawasan konservasi sebagai area yang dilindungi memiliki proritas yang berbeda terhadap infrastruktur jalan terutama dalam pengelolaan kawasan.

Peningkatan kualitas jalan dan pengembangan jaringan jalan baru demi mendukung pertumbuhan ekonomi suatu daerah seringkali memaksa pembukaan pada lahan-lahan yang berfungsi lindung. Hal ini menimbulkan pro dan kontra bagi masyarakat, pemerhati lingkungan dan pemerintah karena terjadi kasus dimana pembangunan jalan tidak bisa menghindari kawasan konservasi dan hal ini seringkali tidak berdasarkan perencanaan yang telah mempertimbangkan dampak negatif terhadap kawasan konservasi yang dilewati.

Jalan tengah antara kepentingan pembangunan ekonomi dan konservasi harus dicari. Untuk itu Forum Pengembangan Wilayah Perdesaan Berkelanjutan (SRRED-FI) mengadakan Focus Grup Discussion (FGD) dengan tema “Eco-construction dalam Pengembangan Wilayah dan Perdesaan yang Berkelanjutan” pada tanggal 14 Agustus 2014 bertempat di Hotel Ambhara Jakarta.

Direktur Binda II, Ditjen Penataan Ruang Kementerian Pekerjaan Umum – Bapak Edison Bahal menerangkan tujuh pilar didalam program P2KPB dimana salah satunya adalah mengenai Infrastuktur (Urban – Rural Infrastructure). Menurut beliau, salah satu cara agar kawasan konservasi dapat terjaga sesuai fungsinya adalah dengan menguatkan infrastruktur desa dan desa – kota.

Direktur Bina Teknik, Ditjen Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum yang dalam pertemuan ini diwakili oleh stafnya menyampaikan “Kriteria Teknik Lingkungan pada Sistem Jaringan Jalan”. Pada Permen PU No 19/PRT/M/2011 Pasal 59 disebutkan bahwa kelestarian lingkungan hidup wajib dipertimbangkan untuk setiap perencanaan teknis jalan; setiap perencanaan teknis jalan juga harus dilengkapi dengan dokumen AMDAL atau UKL-UPL atau SPPL sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Dr. Anshori Djausal dari Universitas Lampung memaparkan mengenai “Kajian Pembangunan Jalan di dalam Taman Nasional”. Dalam paparannya beliau menyatakan keprihatinan terhadap temuan lapangan di Taman Nasional Sebangau dimana Jalan Kabupaten yang sudah terealisasi sepanjang 22 Km tidak layak secara ekologi maupun ekonomi. Dalam pertemuan FGD ini, Dr. Anshori Djausal ditetapkan sebagai focal point untuk Eco-construction SRREDFI.

Berikut merupakan rencana tindak lanjut SRRED-FI :

  1. SRRED-FI akan menggunakan koridor RIMBA sebagai laboratorium sekaligus percontohan untuk menguatkan “Perencanaan dan Perancanga Eco-construction”. Berbagai studi terhadap segmen jalan yang memotong koridor RIMBA baik di kawasan hutan lindung atau kawasan konservasi dapat dilakukan.
  2. Modul NSP/ Panduan pembanguna dari Ditjen Bina Marga diharapkan dapat dishare kepada forum.
  3. Menyusun suatu panduan bersama sebagai proses integrasi NSP dari kementerian sebagai paying bersama untuk mewujudkan struktur ruang yang sesuai dengan perencanaan penataan ruang.
  4. Membuat agenda secara bertahap (Road Map) untuk menyelesaikan dokumen panduan bersama.

Pelatihan Sistem Jaringan Penataan Ruang – Jambi

Dalam upaya mendukung pemerintah dalam implementasi terhadap tata ruang, WWF bersama Direktorat Jenderal Penataan Ruang Kementerian Pekerjaan Umum mengadakan kegiatan Dialog Nasional Forum Pengembangan Wilayah dan Perdesaan Berkelanjutan. Rangkaian kegiatan ini dilanjutkan dengan pelatihan mengenai Sistem Jaringan Pentaan Ruang (SIGAPTARU).

Disadari bahwa tata ruang adalah milik bersama yang bisa diwujudkan hanya dengan keterlibatan semua pihak pengguna ruang. Untuk itu sistem Sigaptaru hadir menjawab tantangan implentasi terhadap rencana ruang yang telah disusun.

Kegiatan pelatihan Sigaptaru di Jambi pada tanggal 2 – 4 Juni 2014 merupakan lanjutan dari rangkaian kegiatan Forum Pengembangan Wilayah dan Perdesaan Berkelanjutan Indonesia (SRRED-FI) yang sebelumnya sudah dilakukan di Jakarta. Bertempat di Hotel Aston Jambi, pelatihan ini mengundang berbagai kalangan yaitu para akademisi, pemerintah daerah, asosiasi profesi dan LSM.

Acara pelatihan ini dibuka oleh Sekretaris Bappeda Provinsi Jambi, Imron Rosyadi. Dalam sambutannya beliau menyatakan sangat mengapresiasi kegiatan pelatihan karena beliau menganggap isu tata ruang sangat menarik dan diperlukan sistem yang dapat mengawasi implementasi tata ruang. Beliau juga mengharapkan kegiatan ini dapat direplikasi pada kegiatan yang lain.

Selanjutnya Thomas Barano dari WWF Indonesia memberikan presentasi mengenai SRRED-FI. Dalam paparannya beliau menekankan bahwa Sigaptaru dapat menjadi penghubung Antara masyarakat di daerah dengan pengambil putusan dan para penegak hukum dibidang penataan ruang.

Turut hadir pula dalam kegiatan ini Ilka Petersen dari WWF Germany yang telah mendukung projek Sustainable Land Use (SULU) di Indonesia. Kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan materi baik secara teori dan penjelasan penggunaan Sigaptaru serta aplikasi android yang dinamakan OpenDataKit (ODK) sebagai aplikasi pendukung.

Hari kedua peserta pelatihan diajak untuk mempraktikan penggunaan ODK di lapangan. Peserta dibawa ke lokasi pabrik sawit, konsesi sawit, hutan akasia, hutan gambut, tambang pasir, dan cagar budaya Indonesia yaitu candi muaro jambi. Di setiap lokasi peserta mengambil koordinat dan memberikan rincian informasi serta mengambil gambar.

Hari terakhir peserta dibimbing untuk mengupload data-data hasil lapangan ke dalam website. Kemudian kegiatan ditutup oleh Adam Dixon dari WWF US dan Ilka Petersen dari WWF Germany yang dilanjutkan foto bersama.

Pelatihan Sistem Jaringan Penataan Ruang – Jakarta

Pada peluncuran Forum Pengembangan Wilayah dan Perdesaan Berkelanjutan (SRREDFI) pada tanggal 23 Mei 2013, diluncurkan pula sistem jaringan penataan ruang SIGAPTARU sebagai wadah komunikasi untuk memberikan informasi dan diskusi mengenai isu-isu kewilayahan dan tata ruang.

Untuk terus dapat mengupdate informasi terkait tata ruang dan isu terkait pengembangan wilayah dan perdesaan melalui SRRED-FI, dibutuhkan sinergi berbagai pihak baik dari pemerintah, sektor swasta, masyarakat, universitas dan LSM. Pengembangan kapasitas berbagai elemen tersebut dibutuhkan untuk mendukung tercapainya penataan ruang yang lebih baik. Sehingga pada tanggal 21 Mei 2014, dilakukan pelatihan SIGAPTARU bertempat di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan.

Pelatihan ini menghadirkan berbagai narasumber yang aktif bekerja menggunakan tool spasial yaitu dari Badan Informasi Geospasial, Human Open Street Map (HOT), Jaringan Kesatuan Pemetaan Partisipatif (JKPP) dan rekan-rekan dari WWF Indonesia, WWF US dan WWF Germany.

Di dalam pelatihan ini peserta diberikan pemahaman mengenai pentingnya keterlibatan semua pihak dalam mewujudkan rencana tata ruang yang sudah disusun. Selain itu dibangunnya Sigaptaru juga tidak terlepas dari tujuan untuk memetakan Local Knowledge Indonesia yang sangat disayangkan masih kurang mendapat perhatian.

Berbagai aplikasi pendukung Sigaptaru seperti menggunakan tool GIS (ArcGIS/QGIS, GeoODK), aplikasi Andoroid (ODK) secara singkat juga dipresentasikan pada pelatihan ini. Perlu diingat bahwa Sigaptaru tidak mengharuskan penggunanya untuk bisa menggunakan tool spasial (GIS).

Setelah dilakukan presentasi dan diskusi di kelas, peserta diajak mempraktekkan hasil teori yang diterima di lokasi terbuka yaitu di Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Setelah selesai mengambil data peserta kembali ke kelas dan dilakukan pelatihan bagaimana menginput data tersebut di Sigataru. Kegiatan ditutup oleh perwakilan dari Direktorat Jenderal Penataan Ruang, Kementerian Pekerjaan Umum.

Dialog Nasional Forum Pengembangan Wilayah & Perdesaan Berkelanjutan

Jakarta –  Bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional, Sustainable Rural and Regional Development – Forum Indonesia (SRRED-FI) – yang terdiri dari Direktorat Jenderal Penataan Ruang Kementerian Pekerjaan umum, WWF Indonesia, USAID-IFACS, IAP, IPB, dan UGM mengadakan Dialog Nasional yang bertema Pengembangan Wilayah dan Perdesaan Berkelanjutan bertempat di Hotel Bidhakara.

Kegiatan dialog nasional ini bertujuan untuk menghimpun para pemerhati dan pemangku kepentingan pengembangan wilayah dan perdesaan untuk bersama-sama melakukan sharing informasi, pengalaman dan alih pengetahuan dalam mensinkronisasi berbagai program pembangunan perdesaan berkelanjutan dalam rangka yang sesuai dengan tata ruang dan kelestarian lingkungan serta mensosialisasikan forum SRRED-FI sebagai mitra bagi pemerintah dalam melaksanakan pembangunan, khususnya di perdesaan serta menjaring pemerhati yang perduli terhadap pengembangan wilayah dan perdesaan untuk menjadi anggota SRRED-FI.

Wakil Menteri Pekerjaan Umum, Hermanto Dardak dalam sambutannya menyatakan bahwa sejalan dengan terbitnya Undang-undang No 6/2014 tentang Desa perlu program-program dalam upaya mengembangkan perdesaan, sehingga dukungan dari perencanaan wilayah dalam implentasi menuju terciptanya desa mandiri sangat diperlukan. Dialog ini merupakan momentum penting dalam menyeimbangkan pembangunan dan meminimalkan dikotomi timur barat.

Ketua Pansus RUU Desa, Akhmad Muqowwam dalam kesempatan yang sama menyatakan bahwa dengan terbitnya UU Desa No 6 tahun 2014, peran Kementerian Pekerjaan Umum adalah penyiapan tata ruang yang baik melalui RTRW Kabupaten dan rencana detil tata ruang serta rencana zonasi. Pengaturan Insentif dan disinsentif Antara perkotaan dan perdesaan juga perlu diatur agar terjadi sinergi di kedua wilayah tersebut.

Acara kemudian dilanjutkan dengan diskusi yang terdiri dari dua panel, panel pertama menghadirkan pembicara yaitu Prof. Ir. Anshori Djausal, MT dari Universitas Lampung , Bapak Kusdiono dari CCLA, dan Thomas Barano dari WWF Indonesia. Panel kedua menghadirkan beberapa perwakilan Kabupaten Penerima P2KPB yaitu Ibu Erniawati, kepala Bappeda Kabupaten Agam, dan Ir. Lalu Satria Atmawinata, Kepala Bappeda Kabupaten Lombok tengah setelah itu dilanjutkan paparan dari Kesatker wilayah jalan kelok Sembilan. Turut hadir pada acara ini sebagai peserta antara lain adalah para akademisi, pemerintah daerah, asosiasi profesi dan LSM.

Kegiatan ini ditutup dengan dilantiknya Sekretaris Jenderal SRRED-FI yaitu Thomas Barano dari WWF Indonesia oleh presidium SRRED-FI. Pada kesempatan ini juga disampaikan bahwa tahun ini SRRED-FI akan fokus pada dua tema kegiatan yaitu eco-construction dan perdesaan lestari.

Berikut merupakan materi yang disampaikan pada kegiatan ini :