Eco-construction dalam Pengembangan Wilayah dan Perdesaan yang Berkelanjutan

Pentingnya infrastruktur khususnya jalan untuk pengembangan suatu wilayah menjadi suatu keperluan dasar yang perlu dibangun untuk mendorong pembangunan ekonomi wilayah. Disaat yang sama kawasan konservasi sebagai area yang dilindungi memiliki proritas yang berbeda terhadap infrastruktur jalan terutama dalam pengelolaan kawasan.

Peningkatan kualitas jalan dan pengembangan jaringan jalan baru demi mendukung pertumbuhan ekonomi suatu daerah seringkali memaksa pembukaan pada lahan-lahan yang berfungsi lindung. Hal ini menimbulkan pro dan kontra bagi masyarakat, pemerhati lingkungan dan pemerintah karena terjadi kasus dimana pembangunan jalan tidak bisa menghindari kawasan konservasi dan hal ini seringkali tidak berdasarkan perencanaan yang telah mempertimbangkan dampak negatif terhadap kawasan konservasi yang dilewati.

Jalan tengah antara kepentingan pembangunan ekonomi dan konservasi harus dicari. Untuk itu Forum Pengembangan Wilayah Perdesaan Berkelanjutan (SRRED-FI) mengadakan Focus Grup Discussion (FGD) dengan tema “Eco-construction dalam Pengembangan Wilayah dan Perdesaan yang Berkelanjutan” pada tanggal 14 Agustus 2014 bertempat di Hotel Ambhara Jakarta.

Direktur Binda II, Ditjen Penataan Ruang Kementerian Pekerjaan Umum – Bapak Edison Bahal menerangkan tujuh pilar didalam program P2KPB dimana salah satunya adalah mengenai Infrastuktur (Urban – Rural Infrastructure). Menurut beliau, salah satu cara agar kawasan konservasi dapat terjaga sesuai fungsinya adalah dengan menguatkan infrastruktur desa dan desa – kota.

Direktur Bina Teknik, Ditjen Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum yang dalam pertemuan ini diwakili oleh stafnya menyampaikan “Kriteria Teknik Lingkungan pada Sistem Jaringan Jalan”. Pada Permen PU No 19/PRT/M/2011 Pasal 59 disebutkan bahwa kelestarian lingkungan hidup wajib dipertimbangkan untuk setiap perencanaan teknis jalan; setiap perencanaan teknis jalan juga harus dilengkapi dengan dokumen AMDAL atau UKL-UPL atau SPPL sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Dr. Anshori Djausal dari Universitas Lampung memaparkan mengenai “Kajian Pembangunan Jalan di dalam Taman Nasional”. Dalam paparannya beliau menyatakan keprihatinan terhadap temuan lapangan di Taman Nasional Sebangau dimana Jalan Kabupaten yang sudah terealisasi sepanjang 22 Km tidak layak secara ekologi maupun ekonomi. Dalam pertemuan FGD ini, Dr. Anshori Djausal ditetapkan sebagai focal point untuk Eco-construction SRREDFI.

Berikut merupakan rencana tindak lanjut SRRED-FI :

  1. SRRED-FI akan menggunakan koridor RIMBA sebagai laboratorium sekaligus percontohan untuk menguatkan “Perencanaan dan Perancanga Eco-construction”. Berbagai studi terhadap segmen jalan yang memotong koridor RIMBA baik di kawasan hutan lindung atau kawasan konservasi dapat dilakukan.
  2. Modul NSP/ Panduan pembanguna dari Ditjen Bina Marga diharapkan dapat dishare kepada forum.
  3. Menyusun suatu panduan bersama sebagai proses integrasi NSP dari kementerian sebagai paying bersama untuk mewujudkan struktur ruang yang sesuai dengan perencanaan penataan ruang.
  4. Membuat agenda secara bertahap (Road Map) untuk menyelesaikan dokumen panduan bersama.